Ads 468x60px

Langkah-langkah yang harus dilakukan bila mengalami penipuan Online

Belanja online memang menawarkan beragam kemudahan, akan tetapi kalau kita tidak waspada bukannya kemudahan yang kita dapatkan, malahan uang kita hilang sia-sia. Apabila (diduga) kita menjadi korban penipuan online, apa yang harus kita lakukan??
Sesegera mungkin (begitu kita merasa menjadi korban penipuan) kita ajukan blokir rekening ke bank yang bersangkutan. 

Permohonan blokir bisa kita  ajukan terlebih dahulu, baru surat keterangan dari kepolisian menyusul.
Pemblokiran Rekening Bank Penipu : Nah..,langkah yang mesti ente lakukan ini Ganzzz.....:
1.Siapkan bukti - bukti transaksi & percakapan lewat internet atau sms ( kalo smsan sama seller jangan di hapus dulu ganz sebelum barang sampe di tangan kita ).

2.Siapkan data - data dari pihak yang telah menipu Aganzz ( Nomer HP - Foto - ID FB, forum dll identitas maya dari si pelaku - alamat situs/Thread nya / Lapak nya - DLL ).

3.Siapkan bukti transfer Bank.( Slip Rekening nya jangan langsung di buang di tong sampah ganzzz..,kalo perlu di fotokopi )

4.Buat laporan PENIPUAN ke kantor POLISI terdekat ( Nah ini yang kadang Korban malas untuk melakukannya.....,entah kenapa ya...,jawabannya ada di hati Agan masing2 )

5.Laporkan ke pihak Bank yang bersangkutan & Tanya tentang syarat untuk melakukan Pemblokiran rekening bank penipu ( Jangan sungkan Ganzzz...,laporin aja.... )

6.Ajukan permohonan pemblokiran secara resmi sesuai dengan tata cara Bank yang bersangkutan 

(Kalo udah sampe tahap ini..,bentar lagi kita tinggal nunggu aja gan....)

Sumber : Aru Martino.com

JAKARTA, KOMPAS.com- Korban penipuan melalui transfer bank sekarang bisa meminta bank untuk memblokir rekening pelaku dan mengembalikan dana korban jika pelaku tidak memberikan keterangan identitasnya kepada bank.
Mediator Madya Senior Direktorat Investigasi dan Mediasi Perbankan Bank Indonesia Sondang Martha Samosir di Jakarta Senin (20/12/2010) mengatakan bahwa mengenai blokir rekening itu merupakan salah satu keputusan Komite Bye Laws dan Bank Indonesia untuk melindungi nasabah perbankan.

"Aturan Bye Laws mengenai hal ini sudah berjalan sejak Desember 2009, yang ditujukan untuk melindungi nasabah perbankan yang menjadi korban kejahatan atau penipuan dengan mentransfer dana melalui bank," katanya.

Dikatakannya, dengan aturan teknis bersama (bye laws) pelaku perbankan ini, maka nasabah yang merasa tertipu dengan mengirim dana melalui transfer, bisa langsung meminta pada bank yang digunakan pelaku penipuan untuk diblokir.

Dengan aturan ini, bank akan segera menghentikan sementara rekening pelaku sambil meminta surat laporan dari kepolisian sambil melakukan verifikasi atas laporan korban.

Setelah bank melakukan identifikasi pada pemilik rekening pelaku dan ternyata setelah beberapa kali panggilan pelaku tidak hadir maka, bank bisa memutuskan untuk mengembalikan dana korban.

Sondang menjelaskan, aturan ini juga berlaku bagi kejahatan lain seperti card trapping atau card skimming dan kejahatan lain yang termasuk cyber crime yang dilakukan melalui transfer dana dari rekening korban kepada rekening pihak lain secara melawan hukum. "Tapi untuk korban penipuan dengan uang tunai kami tidak bisa bantu," katanya.

Aturan yang dikeluarkan Komite Bye Laws ini, lanjutnya merupakan terobosan hukum untuk membantu nasabah dengan memblokir, mengembalikan dana dan penutupan rekening.

"Namun bank tetap menerapkan prinsip kehati-hatian untuk mitigasi risiko hukum dengan melakukan investigasi dengan cara meneliti profil transaksi nasabah, mengunjungi alamat nasabah dan identitas nasabah," katanya.

Pengaturan pemblokiran rekening ini, katanya merupakan turunan dari berbagai aturan yang ada seperti undang-undang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Data yang diterima BI dari 10 bank, sejak 2007 sampai pertengahan 2010 terdapat 15.097 kasus penipuan melalui bank dengan total dana sekitar Rp86.755 miliar. "Total dananya bisa lebih dari itu, karena beberapa bank hanya melaporkan kasusnya tapi tidak menyebutkan jumlah dananya," katanya.
SUMBER : KOMPAS EDITOR : ERLANGGA DJUMENA  Sumber artikel  : threat di KASKUS